"Bagi yang mau pulang, wajib menghafal perkalian dahulu." Demikian perintah Bu Guru wali kelas 1 SD.
"Ibu akan menunjuk secara acak." lanjutnya.
"Nomor absen 27 maju." titah Bu Guru kepada siswa dengan absen 27.
Majulah seorang anak kecil nomor absen 27 dengan agak menunduk.
Mulailah si anak dengan nomor absen 27 membeo perkalian dan berakhir dengan tersendat serta bentakan Bu Guru.
"Duduk kamu G***k, ini ibu kasih hadiah kalung kertas dan tulis nomor absenmu."
"Kalian kali ini Ibu berikan kesempatan belajar dan ingat besok pagi yang tidak bisa akan Ibu berikan hadiah kalung kertas seperti dia (sambil menunjuk anak dengan nomor absen 27)." Tegas Bu Guru.
Setibanya di rumah, anak kecil dengan nomor absen 27 hanya terdiam dan belajar dengan penuh tekanan. Dia terdiam karena kala itu jika bercerita kepada orangtua tentang kondisi yang dia hadapi di sekolah apalagi sampai dihukum guru, namanya bunuh diri karena orangtua akan semakin membantai dirinya.
***
Waktu pun berlalu termasuk lukanya terbawa sampai anak kecil dengan nomor absen 27 bertemu dengan seorang Bu Guru tua yang berkata keras di awal perwalian kelas 6 SD "ANAK-ANAKKU, KALIAN DI KELAS IBU ADALAH ANAK YANG BERHARGA, AMIEN?"
Kalimat singkat yang disampaikan saat perwalian ini menjadi semangat dan dijawab keras oleh para murid kelas 6 di kelas itu dengan satu kata "AAAAMIIIIEEENNN" termasuk anak dengan nomor absen 27.
Kalimat singkat Sang Guru menjadi semacam oase di tengah padang pasir. Sang Guru melakukan pendekatan kepada para muridnya satu persatu dan kalimat yang ditanyakan sederhana ketika bertemu yaitu "bagaimana perasaanmu?"
Ketika anak itu ditanya 2 kata itu, mendadak dia menangis dan berkata "saya ini g***k Bu dan saya masih marah dengan Bu Guru kelas 1 yang melabeli saya demikian ketika tidak bisa perkalian."
Sang Guru tua nan bijak ini tersenyum dan mengelus lembut anak ini dan berkata "hei, itu khan menurut si Ibu kelas 1 saat itu, menurut Ibu , kamu itu punya potensi positif dan hebat hanya saja belum keluar saja."
Anak ini termangu dan terhenti tangisnya, dia pun berkata "darimana Ibu tahu, khan kita baru bertemu?"
Sang Guru berkata kembali "Ibu akan tunjukkan asalkan kamu mau berjanji bahwa kamu mau berproses bersama Ibu, bagaimana?"
Anak ini mengangguk tanda dia setuju. Wajahnya berubah dan sejak saat itu, anak itu mau berproses bersama Sang Guru sampai di akhir kelulusan, dia masuk ke dalam 5 besar di dalam kelas dan anak ini diarahkan untuk memaafkan.
***
Cerita di atas adalah kisah nyata dan pesan yang ingin disampaikan adalah hati-hati dalam memberi label kepada seorang anak kecil, semua anak adalah berharga bukan beo dan mereka perlu diberikan stimulus positif.
Jika ada seorang murid tidak bisa maka berikan pendampingan bukan penghakiman.
"Bagi yang mau pulang, wajib menghafal perkalian dahulu." Demikian perintah Bu Guru wali kelas 1 SD.
"Ibu akan menunjuk secara acak." lanjutnya.
"Nomor absen 27 maju." titah Bu Guru kepada siswa dengan absen 27.
Majulah seorang anak kecil nomor absen 27 dengan agak menunduk.
Mulailah si anak dengan nomor absen 27 membeo perkalian dan berakhir dengan tersendat serta bentakan Bu Guru.
"Duduk kamu G***k, ini ibu kasih hadiah kalung kertas dan tulis nomor absenmu."
"Kalian kali ini Ibu berikan kesempatan belajar dan ingat besok pagi yang tidak bisa akan Ibu berikan hadiah kalung kertas seperti dia (sambil menunjuk anak dengan nomor absen 27)." Tegas Bu Guru.
Setibanya di rumah, anak kecil dengan nomor absen 27 hanya terdiam dan belajar dengan penuh tekanan. Dia terdiam karena kala itu jika bercerita kepada orangtua tentang kondisi yang dia hadapi di sekolah apalagi sampai dihukum guru, namanya bunuh diri karena orangtua akan semakin membantai dirinya.
***
Waktu pun berlalu termasuk lukanya terbawa sampai anak kecil dengan nomor absen 27 bertemu dengan seorang Bu Guru tua yang berkata keras di awal perwalian kelas 6 SD "ANAK-ANAKKU, KALIAN DI KELAS IBU ADALAH ANAK YANG BERHARGA, AMIEN?"
Kalimat singkat yang disampaikan saat perwalian ini menjadi semangat dan dijawab keras oleh para murid kelas 6 di kelas itu dengan satu kata "AAAAMIIIIEEENNN" termasuk anak dengan nomor absen 27.
Kalimat singkat Sang Guru menjadi semacam oase di tengah padang pasir. Sang Guru melakukan pendekatan kepada para muridnya satu persatu dan kalimat yang ditanyakan sederhana ketika bertemu yaitu "bagaimana perasaanmu?"
Ketika anak itu ditanya 2 kata itu, mendadak dia menangis dan berkata "saya ini g***k Bu dan saya masih marah dengan Bu Guru kelas 1 yang melabeli saya demikian ketika tidak bisa perkalian."
Sang Guru tua nan bijak ini tersenyum dan mengelus lembut anak ini dan berkata "hei, itu khan menurut si Ibu kelas 1 saat itu, menurut Ibu , kamu itu punya potensi positif dan hebat hanya saja belum keluar saja."
Anak ini termangu dan terhenti tangisnya, dia pun berkata "darimana Ibu tahu, khan kita baru bertemu?"
Sang Guru berkata kembali "Ibu akan tunjukkan asalkan kamu mau berjanji bahwa kamu mau berproses bersama Ibu, bagaimana?"
Anak ini mengangguk tanda dia setuju. Wajahnya berubah dan sejak saat itu, anak itu mau berproses bersama Sang Guru sampai di akhir kelulusan, dia masuk ke dalam 5 besar di dalam kelas dan anak ini diarahkan untuk memaafkan.
***
Cerita di atas adalah kisah nyata dan pesan yang ingin disampaikan adalah hati-hati dalam memberi label kepada seorang anak kecil, semua anak adalah berharga bukan beo dan mereka perlu diberikan stimulus positif.
Jika ada seorang murid tidak bisa maka berikan pendampingan bukan penghakiman.